(Cerpen ini adalah hasil dari tugas observasi PSAK FISIP UI 2014)
Mati.Itu yang ada di pikiran Pak Tua saat ini. Peluh dingin turun membasahi pakaian kumalnya. Pendingin ruang sudah tak mampu lagi menjalankan tugasnya, dikalahkan oleh udara panas yang keluar dari manusia-manusia sebanyak ini. Pak Tua tak bisa bergerak, terhimpit oleh pintu kereta dan tubuh-tubuh yang ada di belakangnya.
Pak Tua berjinjit, berusaha mencari udara di bagian langit-langit kereta yang agak lapang. Dicibirnya anak muda yang duduk di kursi sebelahnya, yang berpura-pura tidur dengan suara mendengkur yang keras. Padahal ada seorang ibu-ibu di depannya, dan Pak Tua itu sendiri di sampingnya. Padahal kursi itu adalah kursi prioritas, yang diperuntukkan sudah pasti bukan untuk anak muda itu! Diteguhkannya hatinya yang ketakutan. Dia memang baru kali ini naik kereta. Jika saja ada jalan keluar lain, dia tidak akan mau menaiki kendaraan besar ini. Apalagi dirinya di masa lalu, bertahun-tahun yang lalu. Mendengar suaranya saja dia akan muak. Kendaraan kampung, makinya saat itu. Padahal ia tidak pernah naik kereta. Tapi dengan seenaknya dia memberi julukan itu, gara-gara egonya yang terlampau besar. Ia hanya pernah mendengar dari kolega-koleganya cerita-cerita seram tentang kereta. Mulai dari pengamen yang menyebalkan, kepanasan, hingga kecelakaan yang sering terjadi. Tapi sekarang, Pak Tua merasa semua itu hanyalah hiperbola semata, kecuali pernyataan yang terakhir. Seandainya tidak sepenuh ini, Pak Tua yakin dia akan sangat menikmati bepergian naik kereta. Kursinya terlihat nyaman, gerbongnya bersih, ada pendingin ruangannya pula (walaupun tak berguna saat jam ramai seperti sekarang). Entah bagaimana dan kapan kereta akan nyaman setiap saat. Seandainya ia tidak menyaksikan gerbong besi ini menyambar tubuh istrinya, Pak Tua akan menikmati naik kereta setiap hari tanpa harus mengingat wajah istrinya yang hancur. Walaupun sebenarnya bukan kereta yang menyebabkan istrinya pergi. Polisi mungkin menulis seperti itu, tapi Pak Tua tahu satu hal. Dirinyalah yang telah membunuh istrinya.
Cahaya matahari sore menerpa wajahnya. Pak Tua sedikit menyipitkan matanya yang mulai rabun. Ia mulai khawatir. Ia bisa dipecat kalau ia terlambat lagi. Andaikan saja ia tadi tak bertengkar dulu dengan anaknya,mungkin saja sekarang ia tak perlu sekarat seperti ini. Mungkin saja sekarang ia sudah mengepel lantai atau mengantarkan kopi kepada bosnya yang hobi sekali lembur. Atau mungkin saja sekarang ia sudah bersiap untuk menghadap Tuhannya, untuk bersujud sambil menangis, minta ampun atas dosa-dosa masa lalunya yang tak termaafkan.
Ah, mata Pak Tua selalu berair tiap kali ia mengingat masa lalunya. Setelah ia pikir lagi, mungkin dirinya adalah salah satu penyebab kondisi seperti yang ia hadapi saat ini secara tidak langsung, dan juga masalah infrastruktur negeri ini yang kacau balau yang mengakibatkan banyak hak-hak warganya yang tidak terpenuhi. Uang. Barang terkutuk itu. Kertas sial yang membuat ia akhirnya kehilangan seluruh harta kebanggannya, harta yang ia kumpulkan dengan susah payah. Kertas sial yang menghilangkan nyawa 150 orang akibat jembatan runtuh, karena ia dengan sengaja membeli bahan baku jembatan dengan mutu rendah dan harga yang murah. Kertas sial yang membuat istrinya bunuh diri setelah ia tahu suaminya adalah seorang koruptor. Mirisnya, walaupun ia tahu betapa terkutuknya barang itu, sekarang dia terjebak dalam kereta ini juga gara-gara uang. Ia butuh gajinya yang tak seberapa itu untuk anaknya yang akan menikah bulan depan. Ia ingin menyembuhkan hati anaknya yang terluka karena dirinya, walaupun anaknya menolaknya mati-matian. Tanpa sadar dirinya meraba dompet tipis yang ada di kantong celananya. Isinya hanya beberapa lembar ribuan dan selembar slip gajinya bulan lalu yang akan ia cairkan hari ini. Tapi di dalam dompet ini ada foto terkahir istrinya. Ia bisa mati kalau sampai dompet ini hilang.
“Bapak mau kemana?” sebuah suara menyapanya. Pak Tua mengalihkan pandangannya ke sebelah kanannya. Entah sejak kapan pemuda ini sudah ikut terjebak di sampingnya. Mungkin ia terlalu asyik dengan pikirannya sendiri sampai tidak memerhatikan sekelilingnya.
“Mau ke Manggarai, nak,” jawabnya singkat sambil tersenyum.
“Kerja?”
“Iya nak, shift malam. Mas mau kemana?”
“Saya juga mau kerja pak di Manggarai. Ini sebentar lagi turun,” ia menjawab berbarengan dengan pengumuman bahwa kereta akan segera berhenti.
“Bapak tidak apa-apa? Muka Bapak agak pucat,” tanya pemuda ini agak khawatir. Pak Tua senang, paling tidak tidak semua orang tidak seperti anak muda yang tidur di sebelahnya itu.
“Iya nak, Cuma agak sedikit sesak. Maklum, baru pertama kali naik kereta,”
“Oh bapak baru pertama kali naik? Hahaha, tapi namanya sekarang bukan kereta lagi pak, tapi komuter!” Pemuda itu tertawa pelan. Pak Tua ikut tertawa kecil. Ia tidak pernah mengikuti berita apapun. Baginya besi ini ya tetap kereta.
Tempo kereta (komuter) perlahan-lahan mulai melambat. Pak Tua bersiap-siap untuk segera keluar, sudah tidak sabar menghirup udara bebas. Pintu terbuka, dan tubuh ringkihnya langsung terdorong keluar oleh orang-orang yang berdesak-desakan turun. Pak Tua agak sedikit tersandung, tapi ia berhasil mempertahankan keseimbangan sampai ke bagian yang agak sepi penumpang. Pak Tua bernapas lega, paling tidak dia masih hidup. Ia ambil dompetnya, bermaksud untuk membeli sebotol air untuk melepas dahaga.
Dompetnya! Mata Pak Tua terbelalak. Diraba-rabanya kantong celananya. Tidak ada! Dompetnya tidak ada! Ia dengan panik mencari-cari dompetnya di sekitarnya, barangkali hanya terjatuh. Tidak ada! Ia raba tubuhnya, berharap dompetnya mungkin saja terselip, atau apapun terserahlah, asalkan keajaiban datang dan dompetnya tiba-tiba saja muncul. Tetap tidak ada! Ingatan Pak Tua kembali kepada pemuda di sampingnya tadi. Astaga, dia pasti seorang pencopet!
Tiba-tiba dada Pak Tua sakit sekali. Rasanya seperti terbakar, dipelintir sekuat tenaga. Pak Tua jatuh ke tanah, meceracau, menggapai-gapai panik. Matanya berputar liar, ketakutan. Orang-orang di sekitarnya menjerit-jerit. Tak berapa lama, tubuh Pak Tua berhenti bergerak.
Mati.